Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journey. Tampilkan semua postingan

8 Okt 2008

Sebotol Air Sebungkus Krupuk


Buka bareng (Open Together™) kayaknya udah jadi hal yang pasti dilakuin di bulan Romadon. gak terkecuali buat komplotan Udin and the gank..  

Kita berangkat nunggang empat motor. Gw bonceng Upi, Ryan bareng Elmi sedangkan Udin dan Gali satu satu motor. Sempet kebingungan juga cari lokasi buat buka. Ke Gubuk Mas gak mungkin apalagi Bukit Randu. Selain gak ada dana, tempatnya kurang pas buat komplotan ini.  

Akhirnya Elmi refer tempat yang  bebas ongkos dan dapet viewnya.  Lokasi  kira kira sekitar tripanca, bisa ditempuh dalam hitungan menit dari Kemiling atau Teluk Betung. 

Gak lupa juga kita bawa bukaan dapet belanja di warung...

Sebotol Air Sebungkus Krupuk.



Ini dapet dari Google Earth... 

Latitude : 5°25'15.38"S
Longitude : 105°12'27.62"E


Read More......

4 Apr 2007

Lampung Sailing Club di Pantai tirtayasa

Pantai Tirtayasa,Teluk Betung, kini selalu ramai pada akhir pekan. Pasalnya di hari minggu tempat itu sering digunakan oleh Lampung Sailing Club (LSC), sebuah perkumpulan layar di Lampung. Dari bibir pantai, terlihat kapal-kapal layar yang berukuran kecil berwarna putih berpadu dengan biru air laut. Sekumpulan anak-anak yang tergabung dalam Lampung Sailing
Club
(LSC) sedang asik berlatih. Panorama laut dengan bocah atlit layar berakrobat.


Sherly dan Ayu, peserta LSC sedang asik berakrobat mengendalikan layar. Mereka seolah tak gentar mengikuti deras ombak dan deru angin pantai. Baju mereka basah kuyup dengan raut wajah yang seolah tak gentar menghadapi tantangan alam itu. Sebuah kecintaan dan hobi bermain perahu layar menjadi motivasi kuat bagi mereka.

Rutinitas latihan setiap hari minggu dengan rajin mereka ikuti. Bersama sekitar 50-an rekannya ia serius mengikuti prosesi latihan. “Saya sangat menyukai bermain layar ini, setiap latihan selalu saya ikuti dengan serius,”tambah Sherly lagi.

Pada awalnya merasa asing menggunakan perahu layar. Maklum, sebelumnya hanya kapal orang tuanya yang terbuat dari kayu yang ia kenal. Kini, ia sudah piawai bermain perahu layar. Gabing dan Taking sering dimainkan mereka. Gabing adalah istilah dalam sailing yang berarti merubah haluan dengan cara menarik kemudi kapal layar yang berupa tali, sementara Taking adalah merubah haluan dengan cara mendorong kemudi

Bagi Sherly dan Ayu, bermain perahu layar lebih banyak suka daripada tidaknya. Latihan selama berjam-jam dengan terik matahari yang menghitamkan kulit mereka sudah menjadi hal lumrah. Menambah teman dan aktivitas pada hari libur juga jadi motivasi kuat mereka selain memang tujuan utama keduanaya menjadi atlit layar Lampung.

Jika perahu layar roboh tak urung mereka kewalahan. Tubuh mereka yang ringkih itu tak kuasa menegakkan kapal. Makanya tak jarang mereka meminta rekan dan instruktur mereka untuk membantu menyelamatkan. “Jika kapal layarnya roboh, kami sulit untuk membuatnya tegak berdiri lagi,” ujar Sherly yang diamini Ayu.

Sherly dan Ayu, dua gadis belia yang tak kalah tangguh dengan rekan prianya yang lain. Deni, Nandin dan Dani adalah rekan-rekan mereka. Dalam latihan layar mereka tidak dibedakan. Kedispilinan pun ditanamkan secara kuat pada mereka.

Kepiawaian para bocah itu bermain perahu layar tak lepas dari peran para pelatih dan pembimbing mereka. Soeharto dan Aliyanto adalah instrukturnya. Kedua pria ini memang sangat konsen sekali dengan hobi kapal layar ini. Oleh sebab itu mereka mengajar dan mendidik anak-anak pantai agar tangguh dalam bermain kapal layar. Tak kurang selama 2 tahun ini keduanya mengabdi di kapal layar ini.

Soeharto menandaskan bahwa pelatihan kapal layar bagi anak ini dimulai sejak tahun 2005 yang silam. Pada waktu itu mereka menerima bantuan berupa kapal layar jenis optimis dan laser. Kapala layar optimis merupakan jenis layar untuk latihan yang ukurannya kecil. Sementara Laser adalah yang berukuran besar. Tak kurang saat ini sudah ada 7 kapal untuk mendukung latihan para bocah tersebut.

Setidaknya saat ini sudah 23 orang untuk angkatan pertama dan 60 orang pada angkatan kedua yang ditelah direkrut untuk bibit atlit layar di Lampung. Namun pada angakatan kedua, jumlahnya telah dipangkas lagi sehingga menjadi 20 orang. “Seleksi yang kami lakukan sangat ketat pada anggota yang akan kami latih,” ujar Soeharto.

Batasan usia para calon-calon yang di didik tersebut berkisar antara 10-12 tahun. Hal ini dilakukan agar olahraga layar yang sudah diakui KONI Lampung itu akan dapat membantu pembentukan kekuatan fisik dan postur tubuh para bocah terebut.

Materi pelatihan yang diajarkan dalam LSC meliputi teori dan praktek. “Mereka diajarkan terlebih dahulu bagaimana teknik mengendalikan layar, tau teknik bermain jet dan teknik di atas kapal layar lainnya,”tambah Soeharto. Pengetahuan untuk mengetahui atau mengarahkan kapal angin dalam mengikuti arah angin dan melawan arah angin juga jadi hal penting yang diajarkan.

Setiap hari Minggu mulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00 WIB, para bocah-bocah itu berlatih kapal layar. Dalam praktek latihan di laut, karena kapal jenis optimis dan laser yang terbatas mereka diberikan kesempatan berduaan dalam berlayar kapal layar baik jenis optimis maupun laser.

fotografi oleh : Rino

MotionShoot oleh : Ahmad


Read More......

1 Apr 2007

Road to Pulosari


(text grabbed from : khe's)

“Gila kabutnya turun lagi nih, cepetan yuk!” ajakku.
“Ka, keluarin senternya dong!” pintaku pada Ka’Andi.
“Senter ngga bawa. Lilin aja ngga bawa,” jawabnya.
“Terus lighting kita gimana dunk? Agak tebel nih kabutnya. Trus nesting bawa ngga?”
“Ngga bawa. Kompor aja ngga bawa. Kan tadinya kita mau ke Badui, jadi ngga bawa-bawa yang kayak gituan”.
“Hah! Jadi ngga bawa apa-apa nih. Jangan bilang kalo kita ngga bawa tenda ya, kita mau tidur dimane bro?” seru ku. Mendengar preparation untuk hiking kurang, aku agak-agak risih juga.
“Udah ngga usah ribut, didepan ada gubuk tuh, sapa tau ada orang nya. Sekarang jam berapa khe?” Tanya Iduy.
“Lima lewat lima belas,” jawabku “Dah cepetan yuk!” padahal diantara mereka aku yang paling lambat jalannya.
“Kayaknya dulu ngga lewat-lewat kayak ginian deh. Yakin ini pasti kesasar,” celetukku.
“Shutt! Ngga boleh ngomong gitu,” seru Ka’Andi.
“Eh Astagfirullahhalaizim”.
“Wooiiiiiii………….,” Teriak Dede
Jangankan ada yang membalas sahutan, gema suara sendiri saja ngga kedengaran karena kabut sore itu memang tebal sekali.

***

Dua minggu yang lalu, atau tepatnya 18 Maret 2007, ketiga bro-bro ku datang ke Serang. Mereka adalah Iduy, Dede dan Ka’Andi. Awalnya mereka berniat untuk naik ke Gunung Karang (Pandeglang), tapi aku sarankan ke mereka untuk ke Badui. Karena menurut kawanku yang sudah pernah kesana, di Gunung Karang tidak ada apa-apa.
“Katanya sih disana Cuma ada tujuh sumur gitu aja. Dah gitu kecil-kecil lagi sumurnya. Tapi kita juga ngga bisa ke Badui, kata kawan ijin kesana ribet, ngga bias cepet. Dah kita ke PS aja yuk!” ajakku.
“Hah! Kita maen playstation khe?” Tanya Dede
“Ya bukan lah, dasar O’on,” jawabku sembari menjitak kepala Dede.
“Dimana tuh?” Tanya Iduy
“Di Pari, kesononya Mengger. Masih Pandeglang juga kok,” jawabku.
“Lo dah pernah khe?” Tanya Dede
“Udah pernah sih, tapi lama banget. Kalo dari curug ke kawahnya gue apal, tapi kalo dari kaki ke curugnya gue lupa”.
“Tapi jalan dari sini kesana tau kan?” Tanya Ka’Andi.
“Ya iyalah, secara gue orang sini gitu loh, hehehe…”.
Dengan menjabat sebagai Guide, aku ajak mereka bertiga ke Gunung Pulo Sari yang terletak di Desa Cileuntung Kecamatan Pari Kelurahan Mengger Kabupaten Pandeglang. (kayaknya sih urutannya gitu ;p)
Setelah jalan kaki cukup jauh dari Pari, akhirnya kita sampai di Desa Cileuntung pukul setengah tiga sore. Beristirahat sejenak di warung Emak. Disebut dekimian karena setiap pendaki yang mau ke PS pasti mampir diwarung ini, walaupun Cuma untuk nyelonjorin kaki doang. Tadinya kita ngegunain bahasa sunda biar terdengar akrab dengan Emak, tapi kayaknya Emak tau kalo kita “sunda gadungan” jadi setiap pertanyaan kita dijawabnya dengan bahasa Indonesia.
“Emak mah anaknya banyak neng. Kalo pada mau keatas (gunung PS) pasti mampir kesini dulu. Ada yang udah lama ngga kesini juga pasti inget,” kata si emak.
Tubuhnya kecil mungil, dari suaranya dan cara ia berbicara, kelihatan kalo Emak orangnya ramah dengan siapa saja.
Warungnya juga terbilang kecil, satu ruangan dibagi tiga sekat, satu ruangan untuk para pendaki istirahat, disediakan juga alat solat didalamnya. Satu ruang yang lainnya adalah dapur dan ruang lainnya yang agak besar tempat ia menyimpan jajanannya.
Emak memang kelihatan banyak “anak”nya, beberapa bendera Pencinta Alam terpampang di dinding warung Emak. Kata Emak itu semua pemberian “anak-anak” nya. “Banyak anak kan banyak rejeki,” katanya sambil mengupas pisang untuk dijadikan molen.
“Kalo mau minum mah ambil-ambil aja, ngga usah malu-malu,” seru Emak.

Diwarung Emak sudah ada beberapa pendaki yang beristirahat. Ada yang baru akan naik sama seperti kita berempat, ada juga yang baru turun dari “atas”.
Setelah kita cukup beristirahat, lepas Ashar kira-kira setengah empat kita mulai jalan menuju kaki Gunung PS. Dari jauh terlihat kabut tebal menyelimuti sebagian Gunung PS.
Sawah yang melintang dikanan-kiri jalan membuat kita berhenti untuk foto-foto terlebih dahulu.
“Duy, backgroundnya mesti keliatan. Pake timer aja biar lo juga bias masuk,” seru Dede sambil menunjuk Gunung PS.
“Sip!” bales Iduy.
1..2..3…click cheerrr



“Curug Putri, Kawah, Puncak Pulo Sari”. Begitu kata-kata yang tertulis pada papan yang berdiri sebelah kiri jalan. Mengarahkan kita untuk belok kekiri. Itu berarti kita telah sampai di kaki gunung. Dari kata-kata itu berarti untuk mencapai camp di kawah, kita semua harus melewati curug terlebih dahulu. Setelah sampai di kawah, baru kita bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.
Ternyata setelah mulai mendaki, banyak cabang jalan menuju Curug Putri, ada yang agak kekiri dan satu lagi kekanan. Tanpa memperdulikan jalan yang kekiri, kita semua langsung berjalan kearah kanan, menuju persawahan penduduk. Sawah yang dibuat terasering, laut yang membentang serta Gunung Asepan yang etrletak disamping Gunung PS membuat kita semua terlena, dan membiarkan kaki ini berjalan menuju kearah sana.
“Yakin khe lewat sini?”
“Kayaknya sih gitu. Perasaan dulu pernah kesini deh,” jawabku.
Namun setelah berjalan lebih dari satu jam, suara air curug semakin tidak terdengar. Lereng gunung pun semakin tajam. Batas perkebunan petani sudah terlewati dan jarak pandang mata hanya beberapa meter, akibat kabut yang tebal.

***
“Kayaknya ngga lewat-lewat ginian deh,” seruku.
“Gue pikir kita udah ampe puncak. Cuma bedanya ngga lewat curug,” ungkap Iduy.
“Ngga mungkin! Kalo mau kepuncak kita mesti lewatin kawah dulu,” jawabku sambil mengeluh. Rasanya kaki ini sudah tidak mau diajak untuk berjalan lagi. Tapi kalo dilihat dari lerengnya, rasa-rasanya kita memang berada dipunggung puncak.
“Udah kita potong kompas aja!” celetuk Dede.
Tanpa ada yang menjawab, ia berjalan kekiri. Mengganti arah berjalan kita yang awalnya kekanan.
Sampai tak berapa lama kemudian, gubuk petani terlihat. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Jam ditangan sudah menunjukkan lima lewat tiga puluh. Itu berarti tiga puluh menit lagi waktu Magrib akan tiba dan itu berarti juga gelap akan meneyertai perjalanan kita.
“Gini aja deh. Mending malam ini kita minep digubuk ini dulu. Secara lighting kita juga ngga ada, udah gitu kabut makin tebal. Besok kalo cuaca baik kita terusin lagi perjalanan. Pokoknya patokannya curug kan khe?” saran Iduy. Belum sempat ku jawab, Ka’Andi sudah membalasnya.
“Udah kita lanjutin perjalanan aja. Lumayan masih agak keliatan. Ntar kalo emang ngga ketemu jalan, kita balik lagi kesini,” jawab Ka’Andi.
“Ya udah kalo gitu gue browsing dulu ama Dede. Lo ma Rieke jalan pelan-pelan aja. Ntar kalo gue dapet jalan, balik lagi,” ujar Iduy.
“Tapi lo mesti teriak-teriak duy. Ntar yang ada malah kita pisah lagi,” jawabku agak risih juga mendengar ide Iduy.
“Shutt ngga boleh ngomong gitu,” seru Ka’ Andi.
Akhirnya kita semua berjalan lagi. Iduy serta Dede berjalan paling depan. Karena jalan menuju arah kekiri agak menurun, jadi perjalanan kita pun sedikit lebih cepat. Iduy sudah berlari didepan dan Dede membuntutinya. Sedang aku dan Ka’Andi berjalan cukup santai, sambil berteriak-teriak.
“Woiiiii….De, Duy…,” teriakku
“Wooiiii…juga…,” sahut mereka.
Kira-kira duapuluh menit perjalanan, suara curug mulai terdengar. Itu berarti perjalanan kita mengarah kesana. Dan tak lama terdengar suara orang berbicang-bincang.
“Ka denger suara orang ngga?”
“Iya. Kayaknya dibawah udah curug deh”.
Woiii…De, Duy…
Tak berapa lama aku dan Ka’Andi sudah sampai ditempat Dede dan Iduy berdiri. Ternyata mereka berdua sedang berbicara dengan seorang bapak tua dan seorang bocah laki-laki.
“Muhun bah, kita semua teh kasasar. Tadina bade ka curug, tapi malah nyasab kadiye,” ujar Iduy yang kembali menjadi “Sunda gadungan”.
Bapak yang dipanggil abah ini tubuhnya kurus, dari perawakannya ia berumur berkisar 70an. Beruntung kita semua bertemu dengan dia, walaupun awalnya Iduy dan Dede sempat agak ketakutan juga, karena pakaian abah yang mirip jawara dengan muka yang tertutup syal layaknya ninja.
Kemudian kita semua mengikuti ia berjalan, beberapa menit kemudian kita sampai digubuk abah. Disana telah ada beberapa pendaki yang memang sudah turun dari kawah. Kita pun berkenalan, dan mereka sedikit kaget mendengar kita semua berasal dari Lampung. Karena rata-rata dari mereka semua berasal dari daerah Pandeglang.
“Oh harusnya kalian jangan kakanan lewat sawah, tapi agak kekiri. Padahal dari kaki kecurug tuh ngga lama lho,” seru pria yang terakhir kita kenal bernama ompong.
“Trus kalian masih mau ke kawah? Kalo kita baru aja turun, habis disana dingin banget. Kabutnya juga tebel pisan”.

Abah pun menyarankan agar kita beristirahat digubuknya saja. Namun setelah berunding kita sepakat untuk meneruskan perjalanan hingga ke kawah.
“Nanggung bah udah nyampe sini,” Seru Iduy.
Karena kita semua tidak membawa senter, abah pun menyarankan kepada anaknya beserta dua orang dari mereka untuk mengantar kami hingga ke kawah.
Baju dibandan sudah basah semua , belum lagi ditambah gerimis yang sejak magrib tadi belum juga usai, membuat tubuh ini basah kuyup. Dengan disertai dua buah senter dan satu buah korek, kami berjalan beriringan menuju curug baru setelah itu naik kembali menuju kawah yang derajat kemiringannya hingga 60 derajat.
“Ambil kanan…ambil kanan…kiri jurang!” seru Ompong memberi komando.
Kami semua pun berjalan menghindari kiri, karena bila selip sedikit saja kita semua jatuh ke jurang.
“Tahan Pong, istirahat dulu,” seru seseorang dibelakangku.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira satu setengah jam kami sampai di kawah. Tenda yang berdiri dipaling depan menyambut kedatangan kami. Mereka adalah pendaki dari Pandenglang yang sempat berpapasan dengan kami di warung Emak tadi sore.
Kami tidak dapat melihat dengan jelas ada berapa tenda yang beridir di kawah hari itu. Setelah mencari lahan yang cukup datar, kami pun mendirikan tenda dibelakang tenda orang yang akhirnya kita kenal adalah para pendaki dari Tangerang.
Gerimis sudah mulai reda namun kabut tetap masih tebal. Baju yang basah kuyup membuat tubuh ini menggigil kedinginan, bahkan Iduy mengaku kalau telapak tangannya sudah mati rasa. Namun tak berapa lama tenda pun berdiri dan kami bersama pendaki dari Tangerang membuat api unggun, sambil menyeruput kopi panas.

***
Keesokkan pagi baru keliatan jelas kalau hari itu ada banyak tenda yang berdiri. Bahkan kabarnya ada dua tenda yang nge-camp di puncak sejak hari kemarin. Karena kami tidak membawa kompor dan nesting, maka kami memasak mie dengan menyeburkannya ke air belerang yang mendidih. Orang sekitar biasa menyebutnya “memancing” ala PS. Tidak perlu kompor, tidak perlu nesting apalagi minyak tanah. Cukup mie diremuk-remuk lalu diberi air dan diikat dengan seuntai tali kemudian kita celup-celupkan di air belerang yang mendidih, mie rebus ala PS sudah siap saji. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama pula, hanya beberapa menit saja kita sudah bisa menyantapnya.
“De, foto dunk gue lagi mancing! Keliatan mie nya ya. Aneh juga masak mie pake cara begini, hee..,” ujar Iduy.
Clikk…jeprett

Satu roll film telah kita habiskan untuk foto-foto dikawah. “Tenang, masih ada satu roll lagi,” ujar Iduy.
Sekitar pukul sepuluhan kita beres-beres. Tendapun kita rubuhkan dan mulai membakar sampah-sampah bekas tadi malam. Pendaki asal Tangerang sudah “turun” dari pukul sembilan pagi tadi. Ada beberapa tenda yang masih berdiri namun sebagian besar mereka juga “turun” hari ini. Selain berkenalan dengan pendaki Tangerang, kami pun berkenalan dengan Tari, wanita perantau yang ternyata memiliki kampung di Lampung juga, atau tepatnya didaerah Talang Padang Tanggamus. to be continue


fotografi oleh : deemonz
Teks oleh : khe's

Read More......

27 Mar 2007

Damn Good Batu Granit


Bumi Ruwa Jurai banyak menyimpan keindahan panorama alam. Salah satunya adalah bebatuan granit raksasa yang terletak di antara hamparan kebun karet.

Jalan becek dan ribuan rindang pohon karet di sisi jalan, menjadi pemandangan tersendiri saat mengunjungi objek wisata yang satu ini. Maklum, untuk mencapainya kita harus menerobos area ribuan hektar pohon karet. Sekitar tiga puluh menit melewati kebun karet akhirnya tibalah di Taman Wisata Batu Granit. Objek wisata ini terletak di desa Purwodadi Dalam, Kecamatan Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Dari Bandar Lampung hanya berjarak sekitar 30 kilometer atau sekitar 45 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Batu-batu granit berukuran besar tampak berserakan di sela-sela kebun karet dan ladang singkong milik warga. Sebuah pemandangan yang unik dan menakjubkan. Batu granit berukuran besar maupun kecil tersebut tersebar di area seluas sekitar 100 hektar.

Keunikan batu granit raksasa yang mengelompok dan keindahan panorama alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tak heran ketika musim liburan tiba, objek wisata yang terpencil ini berjubel dikunjungi pendatang.

Ketika kaki menginjakkan kaki di sana gersang dan terik matahari sempat menyengat kulit. Namun di kaki bukit itu kita bisa numpang ngadem di danau buatan yang jernih dengan pohon karet di sekelilingnya. Terasa menyejukkan.

Disulap Jadi Objek Wisata

Taman Wisata Batu Granit Indah ini pada mulanya merupakan sebuah areal perkebunan karet yang dinaungi oleh PTPN. Namun sekitar 5 tahun yang silam, PTPN menghibahkan area seluas 100 hektar ini kepada masyarakat untuk dijadikan objek wisata dengan menonjolkan keunikan batu granit yang memang tersebar dan tampak indah.

Daerah bebatuan ini pun kemudian dibangun dan dikembangkan sendiri oleh warga setempat, bersama Serikat Pekerja Perkebunan Nusantara PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) VII. untuk menjadi objek wisata. Dengan inisiatif warga sekitar kemudian dikembangkanlah objek wisata ini menjadi tempat rekreasi alam bebas.

Danau buatan pun dibuat dengan membendung air Way (sungai) Bekarang. Limpahan air yang menuju ke hilir dimanfaatkan untuk mengairi sawah penduduk. Selain itu bendungan Way Bekarang yang tak lain adalah danau buatan itu juga akhirnya menjadi objek wisata yang bisa memberi manfaat bagi warga sekitar. Setiap bulan ribuan pelancong, baik warga Lampung maupun luar Lampung singgah ke sana. Tak jarang tempat wisata ini dijadikan tempat pelaksanaan jambore Pramuka maupun kegiatan outbond kalangan muda.

Meteor Dari Langit?

Di balik keindahan batu-batu granit tersebut, seorang petani, nampak asyik mengayunkan cangkul di sela-sela pohon singkong dan palawija yang ia tanam. Di area wisata ini warga memang masih bisa mengolah tanah untuk menanam sayuran. Bahkan jenis padi tadah hujan juga tampak di sela-sela bebatuan granit. Konon sebagian warga meyakini bahwa batu granit tersebut merupakan sejenis batu meteor yang jatuh dari langit.

Fotografi oleh : Rhino


Read More......

6 Mar 2007

Purnama di Dermaga Hanura.


Akhir pekan dan Akhir bulan.
kombinasi dua kondisi yang kurang mengenakan. Namun kesenangan tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah yang dikeluarkan. Dengan bermodal sebungkus rokok dan dua gelas kopi, akhir pekan ini habis bersama purnama di atas dermaga Hanura.

Niat awal nge-camp di pulau harus rela untuk kembali ditunda. Perjalanan harus berhenti di dermaga Hanura mengingat dan menimbang keperluan logistik tidak memadai, daripada menjadi ganjalan dalam menghabiskan malam.

Perjalanannya sendiri berawal dari sore yang kusam di pelelangan ikan Lempasing. Riuh rendah pedagang menawarkan ikan ikan segar yang berjajar dirapihrapihkan di Lapak. Anyir tidak sekali kali menyurutkan aktivitas di pinggiran teluk Lampung tersebut. Di sisi lain, Hiu 204, kapal pengawas perairan Direktorat Jendral Kelautan bersandar di kelimun pemancing.
Akhirnya petang datang. Tiga bungkus ikan segar hasil pertukaran dengan selembar limapuluhribuan dibawa ke Hanura.

Perjalanan berlanjut. Tarikan 'nafas' mesin tua Honda Grand meraung diiringi adzhan maghrib. Rute Lempasing-Hanura memang bukan favorit pemakai jalan. Apalagi Sabtu sore, ruas jalan yang hanya (kurang lebih) 3 meter dipenuhi pengendara asal perkotaan yang hendak plesir.
Sepanjang jalan memang banyak terdapat pantai yang terbuka untuk umum. Dengan pengelolaan seadanya dan tarif ala kadar, pengunjung bisa berasyikmasyuk dan melepaskan penat selama satu minggu penuh di situ. Pengendara buta tetap melaju. walaupun malam hitam telah tertimpa di kepala, meski tanpa penerangan, Motor tua ini tetap meliuk di tiap tikungan. Hingga dermaga.

Dermaga itu sendiri sebenarnya milik Balai Budidaya Laut Provinsi Lampung. Terletak di desa TransAD Hanura, Lampung Selatan, di kaki bukit Petar, di sebuah teluk kecil dikelilingi perbukitan Petar dan Cilimus. Dahulu memang dibuka untuk umum. Namun faktor 'ketidaksadaran' pengunjung membuat akses menjadi terbatas. Seharihari digunakan oleh pekerja Dinas Perikanan untuk menyeberang ke pulau tempat keramba pembiakan bermacam krapu yang dibudidayakan. di pulau itu juga terdapat budidaya mutiara milik pengusaha Jepang. Pulau tersebut yang tadinya merupakan tujuan awal.

Teluk kecil itu memang terawat. Intensitas cahaya matahari di kedalaman 4-20 meter menjadikan hamparan itu biru Ruby di siang hari. Namun malam 14 Kliwon menjadikan malam tidak begitu gelap. Purnama selalu muncul di paruh bulan penanggalan Jawa. Seorang teman yang pegawai sana, membikin akses begitu mudah.

Dengan seorang teman, dua gelas kopi, sebungkus rokok dan sebulatan purnama, malam pun dilewati.

Read More......